CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Kamis, Februari 28, 2008

Warga Ibu Kota Sulit Menghemat Listrik

Jangan heran, bila pada Maret nanti, tagihan listrik Anda lebih murah atau lebih mahal dari biasanya. Mulai bulan itu, Perusahaan Listrik Negara akan menjalankan program insentif dan disinsentif listrik [baca: PLN Diduga Akan Menaikkan Tarif Listrik].

Rencana PLN memberikan potongan tarif listrik disambut antusias sebagian warga. Suhani, misalnya, berencana menghemat pemakaian listrik di rumahnya. Terutama bila memang dengan cara itu tagihan listriknya mendapat diskon atau potongan. Selama ini, ia merasa berat membayar tagihan listrik.

Saat ini PLN sudah menetapkan patokan pemakaian bagi pelanggan. Untuk rumah tangga dengan daya 450 voltampere (VA), Anda dikatakan hemat jika memakai listrik di bawah 75 kilowatt-hour (kWh) per bulan. Sedangkan 900 voltampere ditetapkan 115 kWh dan 1.300 VA sebesar 201 kWh.

Bila ingin mengetahui seberapa besar listrik dapat dihemat, pertama-tama cari tahu daya listrik di rumah Anda. Jika 450 VA, maka usahakan memakai listrik di bawah 75 kWh tiap bulannya. Kalau pemakaian di bawah 75 kWh, Anda akan mendapat insentif berupa diskon 20 persen untuk pemakaian listrik yang tidak terpakai. Sebaliknya kalau pemakaian di atas angka itu, tagihan Anda akan membengkak. Sebab, kelebihan listrik yang Anda pakai akan dihitung 1,6 kali lebih besar dari harga tarif normal.

Rencana ini dikritik karena merugikan konsumen terutama di kota besar seperti Jakarta. Menurut anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi, pemakaian listrik setiap warga Ibu Kota jauh di atas batas yang ditetapkan pemerintah tersebut. Adapun dari program tersebut, menurut Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Sunggu Aritonang, PLN berharap bisa menghemat subsidi bahan bakar sebesar Rp 18 triliun.

Persoalannya adalah, apakah masyarakat terutama di kota-kota besar bisa berhemat? Tanpa pengawasan ketat, program ini juga bisa memicu pencurian listrik.

Warga Ibu Kota Sulit Menghemat Listrik


25/02/2008 18:10 Listrik
Warga Ibu Kota Sulit Menghemat Listrik


Liputan6.com, Jakarta: Jangan heran, bila pada Maret nanti, tagihan listrik Anda lebih murah atau lebih mahal dari biasanya. Mulai bulan itu, Perusahaan Listrik Negara akan menjalankan program insentif dan disinsentif listrik [baca: PLN Diduga Akan Menaikkan Tarif Listrik].

Rencana PLN memberikan potongan tarif listrik disambut antusias sebagian warga. Suhani, misalnya, berencana menghemat pemakaian listrik di rumahnya. Terutama bila memang dengan cara itu tagihan listriknya mendapat diskon atau potongan. Selama ini, ia merasa berat membayar tagihan listrik.

Saat ini PLN sudah menetapkan patokan pemakaian bagi pelanggan. Untuk rumah tangga dengan daya 450 voltampere (VA), Anda dikatakan hemat jika memakai listrik di bawah 75 kilowatt-hour (kWh) per bulan. Sedangkan 900 voltampere ditetapkan 115 kWh dan 1.300 VA sebesar 201 kWh.

Bila ingin mengetahui seberapa besar listrik dapat dihemat, pertama-tama cari tahu daya listrik di rumah Anda. Jika 450 VA, maka usahakan memakai listrik di bawah 75 kWh tiap bulannya. Kalau pemakaian di bawah 75 kWh, Anda akan mendapat insentif berupa diskon 20 persen untuk pemakaian listrik yang tidak terpakai. Sebaliknya kalau pemakaian di atas angka itu, tagihan Anda akan membengkak. Sebab, kelebihan listrik yang Anda pakai akan dihitung 1,6 kali lebih besar dari harga tarif normal.

Rencana ini dikritik karena merugikan konsumen terutama di kota besar seperti Jakarta. Menurut anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi, pemakaian listrik setiap warga Ibu Kota jauh di atas batas yang ditetapkan pemerintah tersebut. Adapun dari program tersebut, menurut Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Sunggu Aritonang, PLN berharap bisa menghemat subsidi bahan bakar sebesar Rp 18 triliun.

Persoalannya adalah, apakah masyarakat terutama di kota-kota besar bisa berhemat? Tanpa pengawasan ketat, program ini juga bisa memicu pencurian listrik.(ANS/Vivi Oktoreza dan Nofrianus Barens)


Dolar AS Jatuh di Tengah Melemahnya Data Ekonomi

22/02/08 07:45

Dolar AS Jatuh di Tengah Melemahnya Data Ekonomi

New York (ANTARA News) - Dolar AS jatuh terhadap mata uang utama lainnya, Kamis, setelah data ekonomi AS melemah menambah kekhawatiran ekonomi AS terperosok ke dalam sebuah resesi, kata para dealer.

Euro berada pada 1,4811 dolar sekitar pukul 2200 GMT, naik tajam dari 1,4712 dolar akhir Rabu di New York.

Dolar turun menjadi 107,37 yen dari 108,13.

Para dealer mengatakan dolar terpukul berita buruk sebuah laporan Federal Reserve Bank of Philadelphia yang menyatakan manufaktur regional telah turun menjadi minus 24 pada Februari dari minus 20,9 pada Januari, dua kali lebih rendah dari perkiraan.

Indeks utama juga berada di level terendah sejak resesi tahun 2001, meningkatkan sinyal bahwa ekonomi AS sedang menuju kontraksi.

"Kemerosotan lebih lanjut ... pada Februari memperkuat jatuhnya indeks bulan lalu," kata Paul Ashworth dari Capital Economics.

"Sejauh ini indikator ini mencemaskan sebuah reses," kata dia.

Dolar juga tertekan penurunan indikator utama dari Conference Board pada Januari untuk kali keempat bulan berturut-turut.

Ashworth mengatakan indikator-indikator utama jika dilihat dalam enam bulan terakhir jelas menunjukkan sebuah resesi.

Pasar mencerna laporan the Federal Reserve, Rabu, yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2008 menjadi antara 1,3 dan 2,0 persen dari kisaran sebelumnya 1,8 persen dan 2,5 persen pada November, dan menaikkan estimasi inflasi.

"Semua itu, prospek dalam jangka pendek menjadi tidak positif bagi ekonomi AS," kata Sue Voigtsbeger, seorang analis PNC Bank.

Sementara pound memperoleh dukungan dari data penjualan ritel Inggris yang menguat, membantu mengurangi kecemasan bahwa ekonomi Inggris berada pada risiko pelambatan.

Data tersebut barangkali akan menguatkan mengapa Bank Sentral Inggris (BoE) mempertimbangkan pelonggaran gradual kebijakan moneternya, kata David Page, seorang ekonom Investec.

Dalam perdagangan terakhir di New York, dolar berada pada 1,0897 franc Swiss, turun dari 1,0993 franc akhir Rabu. Pound berada pada 1,9630 dolar, naik dari 1,9419 dolar, demikian AFP.(*)